Salah satu film yang suka aku tonton di netflix adalah dokumenter, aku merasa itu so nyata.
Well, ada film yang selesai ditonton lalu begitu saja berlalu. Kita mungkin menikmati ceritanya, tertawa atau menangis selama menonton, kemudian beberapa jam setelah film berakhir, ceritanya pun ikut selesai di kepala kita. Tapi ada juga tontonan yang justru baru terasa setelah kita mematikan layar, karena ada percakapan atau kalimat tertentu yang tiba-tiba seperti mengetuk sesuatu di dalam diri kita. Begitulah yang aku rasakan setelah menonton Famous Last Words: Gloria Steinem di Netflix.

Awalnya aku tidak punya ekspektasi khusus. Bahkan, aku harus mengakui bahwa pengetahuanku tentang Gloria Steinem sebelumnya tidak banyak. Namanya belum pernah aku dengar, dan aku baru mengetahui bahwa dia adalah salah satu tokoh penting dalam gerakan feminisme setelah menonton dokumenter ini. Gloria adalah seorang jurnalis, penulis dan aktivis yang selama puluhan tahun memperjuangkan hak-hak perempuan. Dia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Ms. Magazine dan menjadi salah satu suara penting dalam gerakan feminisme modern.
Namun yang membuatku tertarik justru bukan bagian tentang bagaimana besarnya nama Gloria Steinem dalam sejarah feminisme. Aku malah lebih menikmati ketika dia duduk dan bercerita tentang hidupnya dengan cara yang sangat sederhana, tentang ayahnya, ibunya, kakaknya, suaminya, pekerjaannya, kehilangan, sampai bagaimana dia melihat kembali semua pengalaman yang sudah dilewatinya. Ada sesuatu yang terasa sangat manusiawi dari wawancara tersebut, seolah aku tidak sedang mendengarkan seorang tokoh besar yang sedang menjelaskan pencapaiannya, melainkan seorang perempuan yang sudah menjalani hidup panjang dan sedang melihat kembali perjalanan hidupnya dengan lebih tenang.
Famous Last Words: Gloria Steinem dan Percakapan Terakhirnya
Salah satu hal yang membuat serial Famous Last Words menarik adalah konsep wawancaranya. Para tokoh yang diwawancarai mengetahui bahwa percakapan tersebut baru akan ditayangkan setelah mereka meninggal dunia. Karena itu, rasanya berbeda dari wawancara biasa. Tidak ada kebutuhan untuk memikirkan bagaimana jawaban tersebut akan diterima beberapa hari kemudian atau bagaimana citra mereka akan terlihat di depan publik.
Pada episode Gloria Steinem, yang kita dengarkan bukan hanya cerita tentang kariernya sebagai jurnalis dan aktivis, tetapi juga cerita tentang kehidupan pribadinya, keluarganya, cinta, kehilangan dan berbagai pengalaman yang membentuk dirinya.
Mungkin karena itulah aku merasa percakapan ini begitu personal. Setelah seseorang menjalani hidup selama puluhan tahun, ternyata hal-hal yang dibicarakan bukan lagi sekadar pencapaian, tetapi juga orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya dan bagaimana dia memilih untuk mengingat semua itu.
Gloria Steinem, Tokoh Feminisme yang Ternyata Baru Aku Kenal
Aku harus mengakui bahwa selama ini aku hanya mengenal nama Gloria Steinem tanpa benar-benar mengetahui perjalanan hidupnya. Dari dokumenter ini baru aku memahami bahwa dia merupakan salah satu tokoh penting dalam gerakan feminisme Amerika. Dia adalah jurnalis, penulis dan aktivis yang selama puluhan tahun memperjuangkan hak-hak perempuan dan menjadi salah satu pendiri Ms. Magazine.
Menariknya, ketika Gloria dianggap sebagai salah satu wajah gerakan feminisme, dia justru tidak menempatkan dirinya sebagai pusat dari gerakan tersebut. Menurutnya, gerakan itu jauh lebih besar daripada satu orang. Ketika membicarakan mengapa dirinya begitu dikenal, dia juga tidak memberikan jawaban yang terdengar seperti sedang membanggakan pencapaiannya. Yang terasa justru adalah pengakuannya bahwa dia terus melakukan pekerjaannya dalam waktu yang panjang.
Dia bertahan dan konsisten. Aku dikenal hanya karena aku bertahan cukup lama dan aku selalu ada dalam tema yang sama.
Gloria Steinem Tentang Air Mata, Kehilangan, dan Menerima Kenyataan
Salah satu bagian yang paling lama tinggal di pikiranku adalah ketika Gloria bercerita tentang suaminya, David Bale. Gloria menikah pada usia 66 tahun dan pernikahan itu kemudian harus berhadapan dengan penyakit yang dialami David hingga akhirnya dia meninggal dunia. Dalam percakapan mengenai masa tersebut, ada pembahasan tentang rasa takut dan bagaimana seseorang menghadapi kenyataan ketika orang yang dicintainya berada dalam kondisi yang tidak bisa lagi dikendalikan.
Dari bagian itulah aku menangkap sesuatu yang menurutku sangat dalam tentang air mata. Selama ini kita sering menganggap menangis sebagai tanda bahwa seseorang masih sangat sedih atau masih sangat mencintai. Padahal mungkin tidak sesederhana itu. Ada masa ketika kita menangis karena masih berharap sesuatu berubah, masih berharap ada jalan keluar, masih percaya bahwa keadaan mungkin bisa diperbaiki. Tetapi ketika kita akhirnya sampai pada titik di mana kita tahu bahwa memang sudah tidak ada jalan keluar, air mata itu bisa berhenti.
Bukan karena kita tidak peduli, bukan karena hati kita tiba-tiba menjadi keras, tetapi karena kita sudah memahami kenyataan yang ada di depan mata.
Entah kenapa, pemikiran itu terasa sangat dekat denganku. Ada keadaan dalam hidup yang mungkin pada awalnya membuat kita menangis berkali-kali karena kita masih mencari kemungkinan lain, masih mempertanyakan apa yang bisa dilakukan, masih berharap semuanya kembali seperti semula. Namun semakin lama, kita bisa sampai pada satu titik ketika tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Kita sudah melihat semuanya dengan cukup jelas dan akhirnya tahu bahwa memaksakan sesuatu untuk tetap ada hanya akan membuat kita semakin lelah.
Pada titik itu, mungkin yang tersisa memang bukan air mata, melainkan penerimaan. Yah air mata memang adalah kata lain dari harapan so ketika air mata sudah tak keluar yah kita tahu sudah sampai pada endingnya.
Cara Gloria Steinem Melihat Ayahnya: Tidak Semua Harus Hitam dan Putih
Aku juga menyukai cara Gloria bercerita tentang ayahnya. Masa kecil Gloria tidak bisa dibilang mudah. Orang tuanya berpisah dan ibunya mengalami kondisi yang membuat kehidupan keluarga mereka menjadi rumit. Gloria bahkan harus ikut berada dalam situasi yang membuatnya menjaga ibunya ketika dia sendiri masih sangat muda.
Kalau mendengar cerita seperti itu, mungkin kita akan mudah membuat kesimpulan bahwa ayahnya adalah orang yang buruk karena meninggalkan keluarga dan tidak bertanggung jawab.
Tetapi Gloria tidak melihat ayahnya hanya dari sisi itu. Ketika ditanya tentang ayahnya, dia tetap bisa mengingatnya sebagai orang yang menyenangkan, lucu dan baik hati, sambil tetap mengakui bahwa ayahnya tidak bertanggung jawab. Aku justru menyukai cara dia menyimpan dua kenyataan itu secara bersamaan.
Seseorang bisa memiliki kekurangan dan tetap pernah menjadi orang yang baik bagi kita. Seseorang bisa mengecewakan kita tanpa harus membuat seluruh kenangan tentang dirinya berubah menjadi buruk.
Semakin bertambah usia, aku juga merasa hidup memang tidak selalu bisa dibagi menjadi orang baik dan orang jahat. Ada orang yang pernah membuat kita bahagia tetapi kemudian mengecewakan kita. Ada orang yang pernah melakukan kesalahan tetapi juga pernah memberikan sesuatu yang baik dalam hidup kita. Mengingat kebaikan seseorang bukan berarti kita membenarkan kesalahannya, begitu pula mengakui kesalahannya bukan berarti kita harus menghapus seluruh sisi baik yang pernah kita kenal.
Kakak Gloria Steinem yang Menjadi Jalan Keluar
Hal yang sama juga terlihat ketika Gloria bercerita tentang kakaknya, Susanne. Dalam percakapan itu ada kesan seolah-olah muncul pertanyaan mengapa Gloria yang harus menghadapi begitu banyak persoalan dengan kondisi ibunya, sementara kakaknya yang lebih tua sudah berada di Washington dan menjalani hidupnya sendiri.
Tetapi Gloria justru memberikan sudut pandang yang berbeda. Ketika kakaknya akhirnya mengetahui kondisi ibunya secara langsung, Susanne mencari tempat perawatan untuk sang ibu dan dari sanalah Gloria mendapatkan jalan keluar dari situasi yang selama ini membebaninya. Gloria bahkan menggambarkan kakaknya sebagai seseorang yang menyelamatkannya.
Aku suka sekali bagian itu karena Gloria tidak sibuk mencari siapa yang seharusnya melakukan lebih banyak. Dia justru mengingat siapa yang akhirnya menjadi jalan keluar. Kita sering kali terlalu sibuk mengingat siapa yang tidak datang ketika kita membutuhkan bantuan, siapa yang tidak peduli atau siapa yang seharusnya melakukan sesuatu untuk kita. Padahal kalau mau melihat lebih jauh, mungkin ada juga orang yang pernah hadir dan membantu kita keluar dari keadaan yang sulit.
Hanya saja terkadang kita terlalu sibuk menghitung luka sampai lupa menghitung pertolongan.
Pesan Gloria Steinem: Lakukan Apa yang Membuatmu Bahagia
Di bagian akhir wawancara, Gloria menyampaikan pesan tentang melakukan apa yang membuat kita bahagia dan menjadi diri sendiri. Setelah mendengarkan begitu banyak cerita tentang kehidupannya, pesan tersebut terasa masuk akal. Perempuan yang sudah melewati puluhan tahun kehidupan, mengalami kehilangan, menghadapi perubahan, bekerja, mencintai dan memperjuangkan banyak hal akhirnya tidak memberikan nasihat yang rumit.
Dia hanya mengingatkan bahwa kita perlu menjalani kehidupan yang kita miliki, menemukan apa yang kita cintai dan tidak terlalu sibuk menjadi orang lain.
Aku suka pesan itu karena terdengar sederhana. Kita sering kali mencari jawaban kehidupan dari hal-hal yang rumit, padahal mungkin setelah melewati perjalanan yang panjang, seseorang justru sampai pada kesimpulan yang sangat sederhana: lakukan apa yang membuatmu bahagia dan tetap menjadi dirimu sendiri.
Famous Last Words Gloria Steinem: Tentang Bertahan dan Terus Berjalan
Mungkin itu pula yang membuat Famous Last Words: Gloria Steinem terasa lebih dari sekadar dokumenter tentang seorang tokoh feminisme. Buatku, ini adalah percakapan tentang bagaimana seseorang melihat kembali hidupnya setelah melewati begitu banyak hal. Tentang keluarga yang tidak sempurna, orang tua yang memiliki kekurangan, orang-orang yang pernah mengecewakan kita, orang-orang yang ternyata menjadi jalan keluar, cinta, kehilangan, pekerjaan, dan pada akhirnya tentang bagaimana kita memilih untuk melihat semua itu setelah waktu berjalan cukup jauh.
Hidup mengajarkan kita untuk melepaskan sesuatu. Bukan selalu dengan tangisan besar atau perpisahan yang dramatis, tetapi kadang-kadang justru melalui sebuah keheningan ketika kita akhirnya sadar bahwa kita sudah tahu jawabannya.
Setelah itu, hidup tinggal dilanjutkan.
Seperti pesan Gloria Steinem di akhir percakapan tersebut, lakukan apa yang membuatmu bahagia, jalani hidupmu sendiri dan jangan lupa menjadi dirimu sendiri. Karena pada akhirnya, mungkin keberhasilan terbesar bukan tentang seberapa terkenal kita atau seberapa banyak yang berhasil kita capai, tetapi tentang apakah kita mampu bertahan cukup lama untuk tetap mengenali diri sendiri setelah melewati semua hal yang pernah terjadi dalam hidup kita.








